BREAKING

Jumat, 12 September 2014

SARI MOELY




Ibu Nur Afiah
Saat membantu kakaknya menimbang pisang yang akan dikirim keluar daerah hatinya tergerak melihat banyak pisang yang masih layak makan tetapi karena tidak masuk kriteria pembeli maka ditinggalkan dan terbuang sia-sia.  Atas kondisi tersebut ibu rumah tangga tiga orang anak istri dari Bapak Mutakaliman mencoba memanfaatnya dengan mengolah pisang-pisang yang tersisa tersebut menjadi sale pisang.  Bagi sebagian orang boleh mengganggap bahwa pisang yang tidak terjual ini adalah sampah, tetapi bagi perempuan yang dilahirkan pada tahun 1979 lalu ini hal tersebut salah besar.  Sebab kalau sampah tentu tidak akan bisa dimakan, tetapi ini ini sebaliknya cita rasa setelah pengolahan hasilnya sangat nikmat dan bahkan sangat laku dijual dan tentu bisa menambah penghasilan keluarga.  Inilah kesan pertama ketika tim berkunjung ke rumah Ibu Nur Afiah ibu rumah tangga  yang juga ketua kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) Pekon Semarang Jaya Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat.
Pisang Ambon yang  sempat ditolak dan kini dijadikan Bahan Dasar Sari Moely
Ibu Nur memulai kegiatan pengolahan pisang sale ini pada tahun 2012.  Walaupun sale pisang bukanlah pakanan langka atau banyak sekali sale pisang di tempat lain, tetapi bagi Ibu Nur mempertahankan cita rasa, kemasan, dan tingkat keamanan saat di konsumsi  tentu akan menempatkan hasil produksinya pada tempat tersendiri di hati pelanggangnya dan masyarakat.  Sale pisang berbahan dasar pisang ambon dan pisang muly hasil sentuhan tangan Ibu Nur Afiah ini di kemas dalam bentuk bungkusan kecil dan besar; dimana untuk bungkusan kecil diberi bandrol Rp 5000 sedangkan untuk bungkusan kecil Rp 500, tentu harga ini yang sangat bisa dijangkau oleh semua kalangan.  Maka tak mengherankan bila perkembangan usaha sale yang dilabely Sary Moely ini terbilang cepat, dan atas perkembangan ini Ibu Nur mengatakan bahwa semuanya berkat tekadnya seorang dan dorongan sang suami yang telah memberi motivasi untuk terus mengembangkan usaha dan memberi pandangan untuk meminjam dana SPP dari UPK Kecamatan Air Hitam: Kalau kita mau maju kita harus menambah modal, dan untuk itu SPP adalah Solusinya. Demikian Ibu Nur berkisah asal muasalnya yang mendorong beliau memutuskan untuk mengakses dana SPP.  “Awalnya saya nggak mau mengakses dana SPP karena takut ribet dan bunganya besar”. Kata Nur
 
Produk Sale Sari Molely
Nama Sari Moely bukan saja nama produk sale yang dihasilkan oleh ibu Nur dan 4 orang dari 12 anggota kelompoknya, tetapi nama ini juga dilekatkan  menjadi nama Kelompok SPP yang telah mengakses dana dari UPK Kecamatan Air Hitam pada tahun 2014  dan  kini telah memasuki angsuran bulan ke-2 yang info awalnya Ibu Nur proleh dari sang suami yang secara kebetulan adalah anggota LHP Pekon Semarangjaya Kecamatan Air Hitam.
Sejak mengakses dana SPP memang terlihat beda; kalau awalnya tenaga untuk melakukan pembuatan sale ini dilakukan oleh Ibu Nur seorang diri, tetapi saat ini atau setelah mendapat suntikan dana Rp 2.000.000,- /orang  atau Rp 24 Juta/12 orang  tenaga yang mengerjakan usaha ini dilakukan oleh 2 orang.  Begitu juga dengan hasilnya; kalau awalnya setiap selesai di goreng hanya menghasilkan 2 toples jumbo maka kini menjadi 8 toples jumbo setiap sekali menggoreng.
Sari Moely sebelum di Kemas
Kini mulai banyak pihak melirik usaha yang dikembangkan oleh Ibu Nur sekedar untuk melihat-lihat dan ada juga yang datang bermaksud menawarkan bantuan permodalan, tetapi bagi Ibu Nur dan Bapak Mutakaliman apapun dan bagaimanapun teknik pengolahan dan strategi penjualan produk sale lebih utama ketimbang bantuan permodalan itu sendiri; Buat apa kami dapat modal besar tetapi barang kami tidak disukai konsumen atau tidak laku kata Ibu Nur saat membahas tentang pentingnya permodalan atau pengelolaan dan pengolahan.   
Gudang Sekaligus Tempat Penimbangan Pisang Milik Kakak Ibu Nur
Dan atas dasar ini pula kini Ibu Nur yang merupakan jebolan pondok pesantren Tremes Pacitan ini sedang mengembangkan jaringan penjualan atas salenya di kecamatan lainnya di Lampung Barat.   Kalau awalnya sale Sari Moely hanya di temukan di Kecamatan Air Hitam, kini sale ini sudah bisa ditemukan di Kecamatan Pajar Bulan dan dan mudah-mudahan tidak lama lagi juga akan dipasarkan Demikian Ibu Nur Afiah .. (tim)

Kamis, 11 September 2014

Menuju Kemandirian



Pendiri dan Penggerak Kelompok SPP Mandiri Kec Pagar Dewa Lampung Barat

Menanjak menurun dan berdebu adalah medan jalan yang lumrah bagi masyarakat di Pekon Margajaya Kecamatan Pagar Dewa Lampung Barat.  Selama berpuluh-puluh tahun masyarakat yang tinggal di daerah ini dihadapkan dengan kondisi sulit transportasi bila musim panas berdebu dan kalau musim hujan berlumpur, bagi mareka jalan berdebu lebih baik dibandingkan dengan jalan berlumpur karena ini akan mempercepat waktu tempuh, sebab bila jalan sudah berlumpur ban motor harus di pasang rantai dan waktu tempuh bisa berlipat-lipat. Akan mujur kalau tidak jatuh atau ban motor terprosok sehingga badan mareka pun akan cedera.
Dalam kondisi cuaca panas jarak antara pekon Marga Jaya dan Pekon Giham/Jalan Lintas Liwa Bukit Kemuning yang hanya sekitar 30 KM bisa di tempuh dalam waktu 1 jam, sedangkan dalam kondisi cuaca hujan jalan berlumpur waktu tempuh bisa mencapai 2 jam atau lebih tergantung tingkat kepandaian si pembawa kenderaan.  Namun apapun kondisi medan jalan perjuangan untuk melanjutkan hidup harus terus dilanjutkan; inilah yang yang terucap dari mulut tiga orang perempuan pengurus kelompok Simpan Pinjam khusus Perempuan (SPP) Mandiri unit kegiatan PNPM-MPd Kecamatan Pagar Dewa yang berdomisili di Pekon MargaJaya.
   Ibu Wirniati yang dilahirkan di salatiga 12/09/1975 istri dari Bapak Supandi dan Ibunda dari Miftahul Huda (20 Tahun) dan Hijatul Inayah (12 Tahun), dan Ibu Nurlelawati terlahir pada 21/04/1973, Istri dari Bapak Haryani Armando dan Ibunda dari Alpin prayoga (19 tahun), Cintia (14 Tahun), Dani (7 Tahun).  Ketiga nama ini di kenal sebagai perintis kegiatan Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) bukan hanya marga jaya tetapi juga Kecamatan Pagar Dewa yang dimekarkan dari Kecamatan Sekincau Tahun 2010. 
Kondisi Jalan Menuju Pekon Margajaya
Tersebut nama Ibu Marsonita yang dilahirkan di Semarang pada tanggal 29/06/1973, Istri dari Bapak Abidin dan ibunda dari Raihan (5 Tahun),
Berawal dari perasaan gundah karena pada media sebelumnya  tiga orang perempuan ini adalah anggota kelompok simpan pinjam Pekon Basungan yang mendapatkan bantuan permodalan dari DisKoperindag Lampung Barat pada tahun 2007.   Dana bantuan awal sebesar 7 Juta rupiah yang dikucurkan Diskoperindag Lambar selama 3 tahun, dikelola bersama Ibu-Ibu lainnya  berkembang menjadi 17 Juta. Namun ketika pekon Margajaya dimekarkan dari Pekon Basungan dengan alasan bahwa domisili ibu-ibu ini bukan lagi di Pekon Basungan tetapi Pekon Marga Jaya  Ketiga perempuan ini bersama teman-temannya diminta untuk keluar dari kelompok Simpan Pinjam Pekon Basungan dan hanya dikembalikan simpanan pokoknya sebesar Rp 10.000/orang dan Pesangaon Sebesar Rp 200.000,-  Alhasil total dana yang mareka terima sebesar Rp. 360.000 ,- (Tiga Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah).  Sambil bertutur kepada Tim yang berkunjung ke Pekon Margajaya Siang itu Ibu Wirniati meneteskan air mata mengenang pahit getirnya perjuangan yang telah ia dan teman-temannya lakukan untuk mengembangkan kelompok Basungan dan perasaan sedih ketika harus menerima kenyataan mareka harus hengkang dan hanya mendapat bagian Rp 360.000,- .  Dan untuk melampiaskan kesedihannya Ibu Marsonita, Wirniati, Nurlelawati dan atas persetujuan teman-teman mareka lainnya bersepakat  membelanjakan uang  ini untuk membeli sebuah pigura bertuliskan Sumpah Setia PKK dan di kembalikan lagi ke Pekon Basungan.  Cerita ini akan selalu terkenang bukan untuk dendam, tetapi ini akan selalu memotivasi kami untuk memajukan kelompok yang sekarang kami gerakkan. Kata Wirniati.
Pertemuan Rutin Kelompok SPP Mandiri Kec Pagar Dewa
Lalu bagaimana dengan kelahiran dan perkembangan kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) Mandiri Kecamatan Pagar Dewa..???  Kelompok mandiri lahir selain dari cerita di atas juga karena dorongan para suami dari ketiga permpuan ini.  Diselimuti rasa sedih saat bergabung dengan kelompok Basungan sebelumnya membuat ketiga perempuan ini orah-ogahan untuk menjalin kemitraan dengan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Pagar Dewa yang menawarkan SPP kali pertama.  Apalagi yang terbersit dipikiran ketiga ibu rumah tangga ini bahwa idealnya simpan pinjam harus berangkat dari skema musim produk hasil pertanian masyarakat  Kecamatan Pagar Dewa pada umumnya yaitu satu tahun sekali, dengan kata lain bahwa idealnya pinjaman pun harus dicicil satu tahun sekali, dan ini tidak memungkinkan diprogram SPP yang harus dicicil setiap satu bulan sekali.  Lagi-lagi peran para suami yang mempengaruhi keputusan ketiga perempuan ini sehingga akhirnya menerima system yang di tawarkan oleh Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Pagar dewa; Suami saya yang kebetulan Peratin di sini yang  terus mendorong kami. Kata Nulela
Dengan segala pertimbangan pada tahun 2012 ketiga perempuan ini memutuskan untuk membentuk kelompok SPP Mandiri dan mengajukan pinjaman ke Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kecamatan Pagar Dewa dengan jumlah pinjaman untuk pertama kali Rp 19.000.000,- untuk sepuluh orang anggota dan pengurus.   Jumlah yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan jumlah uang yang pernah dikelola sebelumnya dan kebutuhan pengembangan usaha anggota.  System dan bunga yang telah disepakati dengan UPK Kecamatan Pagar Dewa sebelumnya oleh kelompok Mandiri yang beranggotakan sepuluh orang di modifikasi dengan maksud dan tujuan memajukan kelompok.  Dari modifikasi ini yang paling kentara adalah alokasi bunga yang dipatok 4 % dan telah disepakati dalam kelompok.  Pembagian 4 % ini dibagi menjadi: 2 Persen untuk pengembalian modal, 1 Persen Simpanan Kelompok, dan  1 % untuk pengurus.    Semua anggotanya menyepakati system ini, dengan model ini dirasa bukan saja lebih cepat berkembang tetapi lebih nayaman dan aman bagi kelompok yang notabene usahanya dari berdagang sayur-sayuran dan kelontongan ini.  Hal ini dapat dilihat dari pola yang di terapkan saat ini, dimana selain mengelola dana dari UPK kelompok mandiri juga mengelola dana 5 juta yang di gulirkan ke anggota lainnya (diluar anggota kelompok mandiri yang telah menyerap dana SPP dari PNPM-MPd yang laba atau keuntungannya murni untuk kemajuan kelompok mandiri atau di gulirkan kembali.  Dan berkat pola ini pula dalam kurun waktu 2 tahun ini kelompok mandiri kini telah berkembang menjadi menjadi 4 kelompok yaitu mandiri I, mandiri II, mandiri III, dan Mandiri IV.    Dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun, juga tidak sedikit rintangan dan hambatan yang dihadapi ketika awal hendak mengembangkan kelompok ini, mulai dari cemoohan dan ejekanpun kerap di terima oleh ketiga perempuan ini; julukan rentenir lintah darat pernah kami terima. Kata Wirniyati
Kebun Kacang Milik Anggota Kel SPP Mandiri II
Kini kenangan saat awal pendirian dan proses pengembangan akan selalu menyertaai kelompok mandiri menuju kemandirian, suka duka akan berujung manis pada saatnya nanti.  System cicilan perbulan tidak selamanya memberatkan kalau kita konsisten dan rajin, setidaknya kalimat ini yang selalu di katakan oleh Ibu Marsonita ketika melakukan sosialisasi manfaat program SPP ke Pekon-Pekon lainnya di Kecamatan Pagar Dewa di tengah kesibukannya yang juga dipercaya oleh masyarakat sebagai anggota Badan Kerjasama Antar Pekon (BKAP) Kecamatan Pagar Dewa.
Di akhir pertemuan dengan tim Ibu Nurlela dan Ibu Wirniati juga menegaskan bahwa apa yang telah mareka alami dan rasakan adalah bukti nyata manfaat keberadaan program Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP).  Kedua perempuan ini hanya berharap program ini akan bisa menampilkan cerita-cerita dari kelompok dan perempuan lainnya di negeri ini.  Semoga  (tim.)

Sabtu, 06 September 2014

Ada Apa Dengan Sarifsyah Ketua UPK Suoh



Sarifsyah atau biasa dipanggil Sarif adalah salah satu putra asli Kecamatan Suoh, pria lajang yang dilahirkan di Pekon Sukamarga pada tanggal 14 juli 1986 adalah lulusan sarjana  IAIN Raden Intan  Bandar lampung pada tahun 2011.  Dengan semangat ingin mengamalkan ilmu yang di dapatnya semasa kuliah serta tekad ingin mensejajarkan Suoh pada umumnya dan Pekon Sukamarga khususnya maka bergabunglah sarif pada Unit Pengelola Kegiatan PNPM-MPd (UPK PNPM-MPd) Kecamatan Suoh dan singkat cerita sejak tahun 2011 terpilihlah Sarif sebagai  Ketua UPK Kec Suoh.  Sejak itulah pria bertubuh mungil namun murah senyum  dikenal dengan nama sebutan baru, baik oleh masyarakat di Kecamatan Suoh maupun masyarakat di Kecamatan lainnya di Lampung Barat  dengan sebutan Sarif UPK.
Sarifsyah Bersama Bapak Selamat, SE/Anggota DPRD Lambar Asal Kec Suoh dan Ronizar/FK Kecamatan Suoh 
Bagaimana perjalanan kehidupan Sarif Sebelum dan setelah menjadi pengurus UPK Kecamatan Suoh.  Sebelumnya Sarif memang sudah telah terbiasa ikut organisasi baik pada saat kuliah dan maupun di masyarakat, seperti Senat Mahasiswa dan Karang Taruna. Namun ada yang menarik dari penuturan Sarif ketika ia mulai bergabung pada Program PNPM-Mpd,   selain bertambah pengetahuan tentang Program dan bermasyarakat, Sarif juga mendapat ilmu tentang administrasi pembukuan pengelolaan keuangan yang sangat detail yang belum Sarif dapatkan ketika mengikuti atau bergabung pada organisasi sebelumnnya bahkan di bangku kuliah sekalipun. Dua hal inilah (Pembukuan dan Pemberdayaan)  yang hari ini banyak mewarnai kehidupan Sarif sebagai pemuda di Kecamatan yang dikenal dengan Kecamatan Sangat Sulit karena  pembangunannya belum sejajar layaknya daerah lainnya di Lampung Barat.
Bagi Sarif dimana ada kemauan disitu selalu ada jalan, kondisi medan Suoh yang banyak dikeluhkan terutama orang luar ketika datang ke Suoh justru mendatangkan berkah dan peluang, Bermodal ilmu yang didapat dari PNPM-MPd terutama tentang administrasi dan pengelolaan keuangan, bersama pemuda Suoh lainnya Sarif mendirikan sebuah organisasi motor cros dengan nama Club Adventure Anak Suoh (CADAS) dan sesuai dengan kemampuan yang kemauan yang ada pada Sarif saat ini, di organisasi ini Sarif dipercaya oleh kawan-kawannya yang lain sebagai Bendahara. Sarif mengungkapkan bahwa Organisasi ini (CADAS) didirikan bukan untuk gagah-gagahan apalagi kalau mau berbuat kriminal layaknya organisasi motor atau lebih di kenal dengan Gang Motor yang ada di berita-berita.   Tetapi justru moment maraknya berita miring tentang Gang Motor di TV dan potensi yang ada di Suoh mendorong Sarif dan kawan-kawan untuk berpikir dan berbuat positif.  Dengan bermodalkan lahan milik keluarga yang terbilang kurang produktif disulap mejadi arena cros atau Grass Track.  Setidaknya sudah 2 Kali Sarif dan kawan-kawan menyelenggarakan Open Grass Track  di arena ini, dan tak tanggung-tanggung turnamen ini dilabeli open Grass Track Lampung Barat dan pada tahun 2014 ini; dari hasil uang pendaftaran peserta, sponsorship, dan donatur CADAS mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 65.000.000,- (Enam Puluh Lima Juta Rupiah). Selain Sebagai tambahan Kas Organisasi, uang ini diperuntukkan untuk operasional dan bantuan transport para pengurus.  Saat di tanya lebih detail berapa bantuan tranport dan operasional yang di dapat dari open grack track 2014 ini Sarif hanya tersenyum; “Ya,, cukuplah tetapi kalau dibandingkan dengan honor menjadi Ketua UPK Kecamatan Suoh tentu lebih besar dari Open Grass Track ini. Ungkap Sarif      

Sarifsah menyerahkan Piala kepada Juara Lomba Voly Putri PNPM-MPd Suoh Cup
Dan Sarif sangat yakin bahwa omset CADAS di tahun mendatang akan lebih besar lagi.  Ini dilihat dari animo peserta yang setiap tahunnya meningkat untuk mengikuti turnamen grass track di Suoh setiap tahunnnya, kondisi ini tentu menjadi motivasi bagi Sarif  dan kawan-kawan dimasa datang.    
Saat ditanya soal keberanian Sarif dan kawan-kawan menyelenggaran open gras grack setingkat kabupaten mengingat selain resiko, pernak pernik penyelenggaraan kegiatan ini juga tidak bisa dibilang mudah, mejawab hal ini Sarif menjawab dengan singkat bahwa keberaniannya didorong oleh kemampuannya mengelola kegiatan yang ilmunya ia dapatkan selama menjadi pengurus UPK Kecamatan Suoh.  Mengapa harus takut kalau kita tahu ilmunya dan kita tahu kita punya potensinya. Kata Sarif.         
Saat ditanya soal manfaat lain yang Sarif proleh ketika menjadi pengurus UPK Kecamatan Suoh. Sambil tersenyum Sarif mengatakan Kalau dilihat dari segi imbalan pendapatan menjadi pelaku PNPM-MPd dikecamatan suoh memang tidak sesuai dengan beban kerja dan medan yang cukup ekstrim, dimana dalam satu bulan minimal dua kali ke Liwa dengan jarak 60 km dengan waktu tempuh 2 – 3 jam perjalanan dengan biaya yang tidak sedikit.  Terkadang apa bila cuaca ektrim terpaksa harus bermalam dijalan dan biasanya harus keluar biaya juga  dan semua tahu berapa honor UPK Kecamatan Suoh saat ini.??   
Ketika ditanya mengapa masih bertahan sebagai pengurus UPK Kecamatan Suoh hingga saat ini?? Sarif mengatakan bahwa  semua ini adalah perjuangan dan ternyata ada manfaat lain yang tidak disangka-sangka, seperti pengalaman menjadi pengurus CADAS dan kepercayaan masyarakat untuk memilih Sarif sebagai penyelenggara Pemilu beberapa tahun ini misalnya.   
Nilai-nilai yang ada di PNPM-MPd telah menjadikan sosok pemuda Sarif selalu berpikir optimis dan menggangap semua persoalan adalah bagian dari dinamika dalam hidup siapapun dan kapanpun.
Kini pemuda Sarif selain sebagai ketua UPK juga sebagai Pimpinan Panwascam, Wakil Ketua Karang Taruna Kecamatan Suoh, Bendahara Kelompok Tani, Pimpinan Ikatan Mahasiswa Pelajar Alummi Suoh.  Suatu ketika Sarif berujar bahwa ia selalu  memimpikan Suoh maju layaknya daerah lain di Lampung Barat dan tidak mungkin ini akan terwujud hanya dengan dirinya seorang, oleh karena itu kerjasama semua pihak khususnya para pemuda di Suoh harus selalu di pupuk dan dipelihara dengan satu kata kunci “Berpikir dan Berbuat Positif”. Semoga. (Ronizar/FK Kecamatan Suoh)

Selasa, 26 Agustus 2014

Mempererat Silaturahmi -- Gelar Rakor Gabungan



LAMBAR--PESISIR BARAT: Dalam Rangka mempererat hubungan Tali Silahturahmi serta meningkatkan Peran serta Kapasitas Fasilitator Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd), di penghujung Sawal 1435 hijriah ini Tim Faskab Lampung Barat bersama Tim Faskab Pesisir Barat gelar Rapat koordinasi gabungan dan acara Halal Bihalal. Acara berlangsung di Pantai Labuhan Jukung, kamis 21/08/2014.
Tim Fasilitator Lampung Barat dan Pesisir Barat Saat setelah Rakor Gabungan

Acara tersebut dihadiri oleh Spesialis Training (SPTR) PNPM MPd Provinsi Lampung,Ir. Abdul Hakim, Tim Faskab Lampung Barat, Ali Rukman (Faskab), Ibnu Walidin (Faskeu), Surya Emharis (Fas-TKab, dan Tim Faskab Pesisir Barat Alek Rufaidi (Faskab), Edwin Jonson(Faskeu), Yesy Octaria (Fas-TKab) serta di ikuti oleh seluruh Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dan Tekhnik Se-Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat.
SPTR PNPM MPd Provinsi Lampung, Ir. Abdul Hakim menjelaskan Pihaknya sangat mengapresiasi pelaksanaan Rakor gabungan ini, dan acara ini merupakan momentum yang sangat berkesan, pihaknya berharap rapat koordinasi gabungan ini tidak hanya antar Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat tetapi dapat di klaster dengan kabupaten- kabupaten yang lainnya," harapan saya faslitator baik pemberdayaan maupun tekhnik (FK/FT) dapat bekerjasama Tim dan mampu berkonsolidasi di wilayah kerja nya masing-masing" jelasnya.
Lomba Balap Karung antara Tim Putri Fasilitator Lambar melawan Tim Putri Pss Barat Hiburan di sela Rakor Bersama
Masih menurut Abdul Hakim, konsolidasi bisa di lakukan seperti mengajak Lembaga Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD), Badan Pengawas UPK (BP-UPK), Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK), Unit Pengelola Kegiatan (UPK) dan juga Pelaku-Pelaku lainnya yang ada di tingkat Kecamatan maupun Pekon, sehingga hasilnya diharapkan dapat terjalin rasa kekeluargaan dan kesolidan antar pelaku PNPM di kecamatan dengan para Fasilitator nya. " Berikanlah kesan atau monumen yang positif, sehingga pada saat FK/FT meninggalkan lokasi tugas nantinya selalu di kenang, di cintai dan dirindukan oleh masyarakat karena pengabdian dari Fasilitator karena sudah melakukan yang terbaik di wilayah tugasnya.
Tarik Tambang Putra Tim Fasilitator Lampung Barat Melawan Tim Putra Pss Barat
Di tempat yang sama Koordinator Fasilitator Kabupaten PNPM-MPd Kabupaten Lampung Barat, Ali Rukman menambahkan pihak nya berharap agar kedepan Program PNPM-MPd ini dapat berkelanjutan sehingga peran fasilitator terus ditingkatkan  dalam rangka memberdayakan masyarakat dan pendampingan program pemerintah.
Masih Menurut Ali Rukman, Rakor ini bertujuan untuk mempererat tali silahturahmi yang selama ini sudah terjalin antar Fasilitator yang ada di kedua kabupaten yakni kabupaten Lampung Barat dan Juga Pesisir Barat. Kerjasama kedepan dapat di lakukan seperti pelaksanaan pelatihan pelaku-pelaku PNPM Mandiri perdesaan yang ada di tingkat kecamatan masing-masing.
Tarik Tambang Tim Putri Lampung Barat melawan Tim Putri Pss Barat yang di menangkan oleh Tim Putri Pesisir Barat
" Mudah-mudahan Konsultasi, konsolidasi dapat tetap terjalin." Tambahnya.

Menarik nya usai acara rapat koordinasi tersebut, acara di lanjutkan dengan halal bi halal saling bersalam-salaman untuk saling memaafkan antar Fasilitator , selain itu juga di meriahkan dengan acara permainan perlombaan seperti lomba tarik tambang, balap karung, dan sepak bola kaki. Permainan tersebut bertujuan untuk memperkuat ikatan persaudaraan antar Fasilitator baik Tekhnik maupun Pemberdayaan khususnya Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat.
(penulis : Herman Jaya FK Way Tenong Lampung Barat)