BREAKING

Rabu, 19 Februari 2014

Prasarana Baik, Prasarana Buruk (Seri 4 & 5)

Merupakan serial buku yang memberi ilustrasi perbandingan antara sarana yang dibangun dengan baik secara teknis dan buruk Seri 4 dan Seri 5. Seri 1-3 telah diterbitkan pada 2007. Cocok untuk bahan rujukan di lapangan.
Download:
Buku 4
Buku 5  

Sumber : PNPM Mandiri Perdesaan

Senin, 17 Februari 2014

Andung Nurma


Eli Dharmawanti/FK Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Pesisir Barat

Mei  2013 pada suatu siang yang terik  bersama UPK saya mengunjungi sebuah Pekon yang terletak di Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Pesisir Barat, Paku Negara, Pekon ini berada di dalam dan jauh dari jalan utama. Seperti biasa tujuan utama kunjungan saya adalah silaturrahmi dan sosialisasi, karena saya percaya hubungan kerja yang baik akan terbina bila kita melakukan pendekatan-pendekatat terlebih dahulu dengan semua pihak terkait.
Saya mengunjungi pekon paku Negara ini bukan tampa alasan. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari rekan-rekan UPK,di pekon ini lah merupakan basis utama penyelenggaraan program simpan pinjam khusus perempuan, yang di motori oleh seorang perempuan bernama Nurma
**
Ia biasa disapa Andung Nurma, perempuan sepuh berdarah jawa yang pasih berbahasa Lampung ini dengan ramah menyambut kedatangan kami di rumahnya yang sekaligus  menjadi tempat usaha salon dan rias pengantin serta di selingi dengan aneka jualan sembako dan jajanan anak-anak, rumah yang tidak terlalu luas ini terkesan sempit dengan banyaknya barang jualan yang di tata di bagian depan.  Sambil memulai obrolan sesekali saya melihat ke dinding ruangan yang banyak dihiasi aneka foto pengantin, saya pikir ini foto keluarga, tapi kemudian saya terkejut ketika Andung Nurma menjelaskan itu foto-fota pengantin yang berhasil ia rias.
***
Andung Nurma memulai usaha rias pengantin ini sudah sejak lama,ia biasa menawarkan jasa kepada orang yang akan menggelar hajatan dari pekon ke Pekon, kemudian lambat laun  banyak yang tertarik dan puas dengan cara kerjanya, sehingga ia mulai banyak dikenal di Kecamatan ini, bahkan semenjak adanya saluran telepon genggam, ia bisa merias di luar Kecamatan, dengan di bantu anak-anaknya “peluang dan respon masyarakat cukup tinggi,apa lagi sekarang ada hp,tinggal  telepon aja” ujarnya sambil dengan ramah menawarkan minuman yang sudah dihidangkan.
Masalah kemudian muncul, ketika ia merasa perlu meningkatkan usaha dengan melakukan tambahan koleksi busana dan jenis riasan “bagaimana caranya saya bisa mendapatkan pinjaman uang untuk tambah koleksi saya,sementara sekarang ini saingan makin banyak”tuturnya mengenang awal mula keterlibatannya dengan simpan pinjam yang di tawarkan PNPM-MPd.
“saya dulunya ragu ketika Peratin menjelaskan tentang SPP sama saya, apa iya gak ada jaminannya seperti Bank?”itu pertama yang terlintas di benak andung nurma. “tapi tetap saya ikuti petunjuk FK dan UPK, untuk mengumpulkan ibu-ibu pengajian yang memiliki usaha agar bisa mendapatkan bantuan pinjaman dana” lanjutnya

Diakui Andung Nurma, meski tanpa jaminan seperti di Bank pemerintah dan swasta akan tetapi proses yang harus dijalankan kelompok sangat sulit dan panjang,terutama mengenai penulisan profosal yang hanya mengandalkan dua sampai tiga orang saja     ya gimana  anggota yang lain mau bantu nulis proposal, lha banyak yang buta hurup kok” katanya sambil tertawa.
****
 Pada pelaksanaanya setelah anggota kelompok mendapat dana SPP banyak sekali masalah yang Andung Nurma hadapi,terutama menyangkut komitmen anggota untuk melakukan pembayaran tepat waktu. Bahkan tidak jarang Andung Nurma yang di percaya sebagai ketua kelompok harus bersitegang  dengan anggota yang lainnya ketika melakukan penagihan setoran “untungnya ada sistim tanggung renteng itu,sehingga setor ke UPK nya gak pernah telat”

Hasil Salah satu kelompok SPP di Kabupaten Lampung Barat
Andung Nurma bersyukur setelah melakukan berapa kali perombakan anggota,  kelompoknya sekarang sebih solid dan sangat berkomitmen dalam hal pengembalian pinjaman,sehingga kelompok mereka masuk dalam katagori kelompok berkembang dan dipercaya memperoleh dana pinjaman lebih  besar dari tahun sebelumnya, melalui sitem perguliran.
“saya berharap simpan pinjam ini terus berjalan dan terus ada,karena ini sangat membantu kami masyarakat dalam hal meningkatkan pendapatan keluarga “ujarnya sambil mengahiri obrolan.










Musrenbangcam Integrasi Batu Brak

Heri Gunawan, ST/Wakil Ketua DPRD Lampung Barat

Batu Brak 17/02/2014: Rencana Kerja Pembangunan Desa/Pekon (RKP) yang telah di tuangkan kedalam Peraturan Desa hendaknya menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan MusrenbangCam (Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan).
Bapak Heri Gunawan, ST yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lampung menyampaikan hal tersebut ketika  beliau menghadiri musyawarah pembangunan kecamatan (Musrenbangcam) di kecamatan Batu Brak.  Masih menurut Bapak Heri Gunawan yang oleh para fasilitator PNPM-MPd Lampung Barat disapa dengan panggilan Abang, bahwa sejak 2010 Pekon-pekon di Lampung Barat telah menyusun RPJMDes dan RKPDes yang kemudian di tuangkan kedalam Peraturan Desa (Perdes) sehingga tidak ada alasan lagi bagi Pekon-Pekon untuk tidak menggunakannya pada saat musrenbangcam.
Pada Kesempatan ini Bapak Heri Gunawan, ST yang juga mantan Fasilitator Teknik (FT) di salah satu Kecamatan di Lampung Barat pada media tahun 2007 juga menyampaikan bahwa tahun 2014 ini merupakan tahun politik dimana akan dilaksanakan pemilu legislatif dan pemilu president.  Untuk itu  beliau menghimbau supaya seluruh warga masyarakat yang telah dewasa dan mempunyai hak pilih dapat menyalurkan hak pilihnya karena setiap warga negara mempunyai hak yang sama.  Selain menyalurkan hak pilihnya agar supaya  seluruh masyarakat menjaga persatuan dan kesatuan; “Jangan pernah ada perpecahan, mari kita saling menghargai perbedaan untuk tujuan yang sama yaitu kesejahteraan”. Kata dia. 
 Selain dihadiri oleh Abang Heri, Musrenbang Kecamatan Integrasi di Kecamatan Batu Brak ini juga di hadiri oleh Anggota DPRD dari Dapil III Lampung Barat lainnya yaitu Bapak Zeflin Erizal, Bapak Suadi, Bapak Buyung Suhaili, Bapak Sumarlin dari BAPPEDA Lampung Barat serta yang tak ketinggalan Faskab dan FasTKab PNPM-MPd Lampung Barat  Bapak Ali Rukman dan Bapak Surya Emharis. Pada saat memandu prioritas usulan 2015 Bapak Ali Rukman mengatakan bahwa integrasi akan berjalan dan berhasil baik jika masing-masing pelaku mempunyai visi dan pemahaman yang sama tentang nilai-nilai yang harus dikedepankan dan dilaksanakan dalam integrasi diantaranya musyawarah dan mengikutsertakan keterwakilan perempuan.   Sementara Bapak Surya Emharis menegaskan supaya jangan ada keraguan dalam melaksanakan nilai-nilai dalam setiap alur dan tahapan PNPM-MPd  walaupun hari ini telah terintegrasi dengan regular; “Tujuan Integrasi untuk perencanaan yang lebih baik, jadi jangan ragu”.. Pungkas Surya   (tim.ar)

Minggu, 16 Februari 2014

Komentar Lukisan





  








(Email dari seorang Sahabat)

Alkisah, ada seorang pelukis terkenal. Hasil lukisannya banyak
menghiasi dinding rumah orang-orang kaya.
Si pelukis dikenal dengan
kehalusan, ketelitian, keindahan, dan kemampuan memperhatikan detail
obyek yang digambarnya. Karena itu, pesanan lukisannya tidak pernah
berhenti dari para kolektor maupun pecinta barang-barang seni.

Suatu hari, setelah menyelesaikan sebuah lukisan, si pelukis merasa
sangat puas dengan hasil lukisannya. Menurut pandangannya, lukisan itu
sempurna. Maka, dia lantas bermaksud mengadakan pameran lukisan agar
orang-orang dapat menikmati, serta mengagumi keindahan dan kehebatannya.


Saat pameran, si pelukis meletakkan sebuah buku di dekat lukisan dengan
sebuah tulisan: "Yang terhormat, para pecinta dan penikmat seni.
Setelah melihat dan menikmati lukisan ini, silakan isi di buku ini
komentar Anda tentang kelemahan dan kekurangannya. Terima kasih atas  waktu dan komentar Anda."  Pengunjung pun silih berganti mengisi buku itu. Setelah beberapa hari, si pelukis pun membaca buku berisi komentar pengunjung pameran dan dia merasa kecewa sekali dengan banyaknya catatan kelemahan yang diberikan.
"Orang-orang ini memang tidak mengerti indahnya lukisan ini.
Berani-beraninya mereka mengritik!" batin si pelukis.

Dalam hati, dia tetap yakin bahwa lukisannya itu sangat bagus. Maka,
untuk itu dia ingin menguji sekali lagi komentar orang lain, tetapi
dengan metode yang berbeda. Untuk itu, ia membuat pameran sekali lagi,
namun di tempat yang berbeda. Kali ini, ia juga menyertakan sebuah buku
untuk diisi oleh pengunjung yang melihat lukisannya. Tetapi kali ini,
penikmat lukisannya tidak dimintai komentar kelemahan, namun untuk
memberikan komentar tentang kekuatan dan keindahan lukisan itu.


Setelah beberapa hari, si pelukis kembali membaca buku komentar
pengunjung. Kali ini, dia tersenyum senang setelah membacanya. Jika
pengunjung yang terdahulu mengritik dan melihat kelemahannya, maka
komentar yang didapatkannya kali ini berisi banyak pujian dan kekaguman
atas lukisan yang dibuatnya. Bahkan, banyak dari hal-hal yang dikritik
waktu itu, sekarang justru dipuji.



 






Dari kedua pameran lukisan yang diadakannya, si pelukis mendapatkan
sebuah pembelajaran bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Apapun
yang kita kerjakan, sehebat dan sesempurna apapun menurut kita,
ternyata di mata orang lain, ada saja kelemahan dan kritikannya. Namun,
pastilah ada juga yang memuji dan menyukainya. Jadi, tidak perlu marah
dan berkecil hati terhadap komentar orang lain. 

Asalkan kita mengerjakan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh 
dan dilandasi niat  baik, itulah persembahan terbaik bagi diri kita sendiri.
(Penutur  Nazmi Roziuddin/FT Pesisir Utara Kabupaten Pesisir Barat)







Tentang Harapan dan Sepotong Cinta




Kita adalah rakit dengan dayung terlepas
Sementara perjalanan belum nampak suar
Sebuah mimpi yang tertunda
Mimpi yang pernah kita susun bersama

Lewat siang tadi,
Kita pandang sepi pada buruk rakit dengan airmata
Lalu, perlahan-lahan kita coret masa depan
Seolah kita hanya punya satu sampan
Sampan harapan

Bukankah Maha Kuasa di pihak kita?


Minggu siang. Selesai sudah pekerjaan rutinku selaku upik abu. Membereskan cucian, mengepel lantai, dan memasak ala kadarnya. Merebahkan diri di sofa panjang sambil menikmati denting Yiruma pada cuaca cerah begini, adalah hal mahal yang sulit kudapatkan. Bahkan pada akhir pekan.
            Namun bayangan kenikmatan mahal itu buyar, beberapa menit setelah ponselku bordering. Salah seorang kepala desa yang kerap berulah di lokasi tugas, berhasil membuat bingkai siangku sedikit retak. Huuftt…ini hari Minggu, Pak…tak bolehkan aku beristirahat sejenak dari segala keinginan dan nafsu yang merajam?
Setelah bertahun aku yakini jalan yang kutapaki, kali ini keyakinan itu menguap entah kemana.. Jauh disudut tersembunyi, aku merasakan jarum kebencian menusuk, perih dihatiku. Aku marah. Merasa sudah melakukan banyak hal yang sia-sia. Merasa keperdulianku selama ini diabaikan. Merasa tak dihargai dengan waktu, tenaga, pikiran, dan cinta yang kuberikan.
Ya, tidak kah kalian mengerti? Aku bertahan disini karena cinta? Sesulit apapun, meski terbentur-bentur dan lebam-lebam, aku mencintai kalian. Aku perduli pada kalian. Ini bukan sekedar pekerjaan. Bukan juga sekedar uang yang aku dapatkan sebagai imbalan atas pendampinganku. Ini jauh di atas itu. Mengertilah.
Pekerjaan adalah ibadah. Namun jika ada terbersit kebencian disana, bagaimana menjadi ibadah?
            Sekali ini, aku merasa kalah. Terpuruk. Selesai sudah.
Dan aku mulai menangis.
Benarkah sekarang saatnya melepaskan? Mungkin ini bukan jalanku, meski aku mencintainya.
Tak tahan dengan sesak yang ada, aku hubungi satu-persatu orang yang bisa kuajak bicara. Salah seorang UPK, TPK, dan kepala desa.
            Kusampaikan keadaan yang ada di kecamatan. Tentang beberapa orang yang berusaha melemahkan kekuatan. Mencerai-beraikan kebersamaan. Dan sedikit luka yang aku rasakan.
Mereka mendengarkan. Menyimak. Kemudian memberikanku sedikit kelegaan. Juga dukungan.
            Kawan-kawan yang selama ini bersamaku, bagaimana bisa, tadi aku sempat menyisipkan benci? Bagaimana mungkin aku hendak berbalik arah dan berlari dari masyarakat yang selama ini mendengarkanku? Kepada mereka aku tiupkan semangat kemandirian dan keberdayaan. Sekaligus kepada mereka juga aku belajar makna kerja keras, ketulusan, dan rendah hati.
            Batinku menolak untuk kalah. Aku bukan pecundang. Aku tak akan menyerah hanya karena satu-dua masalah yang menghadang. Atau karena satu-dua orang yang tak paham.
            Maka aku mengingat lagi sebuah mitologi Yunani yang aku sukai. Tentang kotak Pandora. Ketika dia membuka kotak hadiah bagi suaminya, maka beterbanganlah segala hal buruk ke dunia, kecuali harapan. Karena Pandora keburu menutup kotak itu. Pandora, yang sengaja diciptakan untuk menghukum dunia itu, tak menghendaki manusia selamat. Pandora tahu, harapan adalah obat manjur bagi manusia yang didera berbagai masalah.
            Banyak memang yang harus kuselesaikan. Maka aku harus menjaga harapan tetap ada. Tak ada masalah yang tak bisa selesai, selama aku tetap menggenggam harapan.
            Pemberdayaan adalah kalimat yang indah. Keindahan itu nyata dengan warna-warni masalahnya. Ketika warna yang ada hanya satu, dua, atau tiga, bukankah keindahan itu pun tak akan paripurna? Jadi, jangan pernah tutup segala masalah dengan “titik”, sebab kehidupan pada dasarnya terus bersambung. Barangkali cukuplah akhiri dengan “koma”, sebab yang manis, ada kemungkinan tidak terus manis. Tapi yang pahit pasti dapat diupayakan untuk menjadi manis.
            Apalagi, akhir dari dongeng Yunani tersebut, akhirnya Pandora bersedia membuka kotaknya lagi, sehingga “Sang Harapan” pun bebas melayang.
Kawan, ketika harapan itu melayang, segera raih dan tangkaplah. Karena harapan lebih kuat ketimbang semua masalah di dunia.  (Ratna Juwita/FK Kecamatan Labuhan Maringgai Lam-Tim)